Selembar Kertas Putih
Tinta biru itu menodai sehelai kertas yang lima menit lalu masih berwarna putih bersih. Memandangi noda yang akan menjadi sebuah peristiwa yang tidak akan pernah aku lupakan. Peristiwa yang hanya akan terjadi sekali seumur hidupku. Yang tidak akan pernah dialami orang lain sepertiku. Tempat-tempat terpilih yang akan menjadi saksi bisu dari Indahnya peristiwa itu, yang tentunya akan berbeda jika aku lakukan dengan orang lain.Menghabiskan sisa umur yang tidak seorang pun tau dimana dan kapan dia akan berhenti berputar. Menghabiskan detik yang akan berubah menjadi moment hanya bersama orang pilihan hati ini. Orang yang tidak akan pernah diragukan kehadirannya dalam setiap nafas yang berhembus. Orang yang tidak akan pernah habis ketampanannya dimakan usia.
Butuh perjuangan ekstra untuk menembus gelap dan tebalnya awan yang selalu berusaha menyingkirkan cahaya kehangatan itu. Rasa sakit dan air mata yang mengalir kian deras akan segera tergantikan dengan senyuman serta tawa yang tidak akan pernah sirna sekalipun ombak besar mencoba menenggelamkannya hingga ke dasar laut terdalam. Suatu kekuatan yang entah dari mana datangnya mampu berlari hingga garis finish dan memenangkan pertandingan dari orang-orang yang mencoba menghalalkan segala cara untuk meraih hak yang bukan miliknya.
Tidak seorangpun dapat menggantikan tawa yang aku dapat hanya dari pemenang hati itu. Tidak seorangpun yang dapat menggantikan air mata pengorbanan dengan air mata kebahagiaan yang terjadi karena sebuah kebohongan hanya untuk melihat tawa yang juga terpaksa sebagai usaha untuk menghargai kebohongan itu. Berhentilah untuk membuatku terus memakai topeng bahagia itu.
Biarlah noda-noda pada kertas putih nanti yang akan memberikan penjelasan bahwa aku terlampau bahagia dengan segala mimpi yang akan segera menjadi nyata itu. Mimpi yang hanya akan aku lakukan dengan seorang yang telah menjadi pilihan hati. Menggantikan segala jarak dan waktu yang dulu pernah mengajarkan kami untuk saling percaya satu dengan yang lain, menghormati segala keputusan yang diambil, dan kesempatan untuk berbagi canda tawa yang sangat mahal harganya itu.
Izinkan aku untuk berterimakasih kepada sang waktu yang mengajarkan aku untuk menghargai sebuah pertemuan, kepada jarak yang mengajarkan aku untuk percaya pada hati yang sudah dititipkan ini, kepada alam yang sudah mengajarkan aku untuk percaya bahwa cinta tau kemana dia harus pulang, kepada kamu bagian masa lalu yang memberikan aku pelajaran hingga menjadi lebih baik seperti ini, kepada setiap orang di dalam hidupku yang memberikan semangat serta pesan-pesan kehidupan yang membuat aku selalu berusaha menjadi yang terbaik, kepada mama dan papa yang selalu menguatkan aku dikala badai itu datang menggulung segala kebahagian yang sudah aku jalin, kepada tante dan om yang sudah melahirkan seorang anak yang begitu luar biasa hingga membuat saya berani bertahan untuknya, dan paling utama kepada Tuhan yang sudah mengizinkan kami bertemu dan saling mengenal satu sama lain dan saling belajar mengenai perbedaan untuk melengkapi satu sama lain.
Subscribe to:
Post Comments
(
Atom
)

No comments :
Post a Comment